Bepergian Dengan Bayi Prematur

1 tahun yang lalu
Oleh : dr. Elsa Ameliana


Bayi prematur memiliki kekebalan tubuh yang lebih rendah serta fungsi tubuh yang kurang optimal dibandingkan dengan bayi yang lahir cukup bulan. Bagi keluarga dengan bayi prematur, penting sekali untuk mempersiapkan dan memperhatikan hal-hal di bawah ini bila hendak berpergian dengan bayi prematur.

  1. Usia yang tepat untuk berpergian

Usia yang tepat membawa bayi prematur berpergian tergantung jenis perjalanan yang akan ditempuh. Umumnya untuk membawa bayi prematur berpergian menggunakan jalur darat atau laut, usia bayi tidak menjadi masalah. Yang perlu diperhatikan hanya mencakup kondisi bayi dan ibu dipastikan dalam keadaan stabil (sudah pulih dari luka pasca melahirkan atau tidak sedang mengalami sakit). Hal tersebut berbeda bila bayi prematur dibawa berpergian melalui jalur udara. Usia yang baik bagi bayi prematur untuk berpergian denga pesawat adalah saat bayi mencapai usia kronologis 2-3 bulan. Karena pada usia tersebut, dipastikan sistem imun serta fungsi organ tubuh bayi sudah berkembang dan bayi diharapkan kuat terhadap risiko infeksi. Selain itu, pada usia tersebut  juga dipastikan bayi sudah mampu beradaptasi dengan kehidupan di luar kandungan.

Pada bayi prematur sistem pernapasan, jantung, dan pencernaan belum maksimal. Bila sangat terpaksa bayi prematur dibawa berpergian sebelum mencapai usia koreksi 2-3 bulan, maka sangatlah disarankan untuk keluarga memastikan keamanan dan kesehatan bayi selama perjalanan. Konsultasi dengan dokter spesialis anak sangat diwajibkan.

       2. Pemeriksaan Kesehatan

Bayi prematur sangat diwajibkan untuk mendapat pemeriksaan kesehatan minimal 2 minggu sebelum keberangkatan. Hal tersebut berlaku untuk semua rute perjalan yang akan di tempuh baik darat, laut maupun udara.

Beberapa perusahaan penerbangan mewajibkan orang tua untuk menyertakan dokumen keterangan sehat yang ditulis oleh dokter anak bila hendak membawa bayi berpergian melalui jalur udara.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, bayi prematur dengan riwayat infeksi saluran napas sebaiknya tidak melakukan penerbangan hingga usia 6 bulan sejak  persalinan. Hal itu dilakukan untuk menghindari bayi dari risiko episode henti napas (apnea) yang dapat terjadi selama penerbangan. Selama penerbangan, tekanan kabin menyebabkan kadar oksigen di udara berkurang. Hal ini menyebabkan mudah sekali bayi mengalami kondisi kekurangan oksigen di sel (hipoksia) termasuk pada bayi dengan bronchopulmonary dysplasia (komplikasi yang umumnya terjadi pada bayi prematur yang mendapat suplai oksigen selama perawatan).

Untuk itu pemeriksaan kesehatan sangat penting dilakukan, terlebih kita sudah ketahui bahwa bayi prematur lahir dengan fungsi organ-organ tubuh tidak sama dengan bayi normal. Selain pemeriksaan pada bayi, penting juga dilakukan pemeriksaan pada ibu. Ibu yang melahirkan dengan riwayat operasi juga sebaiknya tidak merencanakan perjalanan selama 6 minggu pasca melahirkan.

        3. Hindari nyeri/rasa tidak nyaman pada bayi selama take off atau landing pesawat

Umumnya kita akan menyadari telinga seakan terasa penuh bila sedang take off atau landing pesawat. Hal tersebut diakibatkan karena adanya perubahan tekanan di dalam kabin pesawat untuk mencapai ketinggian terbang yang aman bagi pesawat. Perasaan tersebut sering disadari sebagai rasa nyeri bila disertai dengan adanya proses infeksi atau radang di salurang teling atau hidung (flu).

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kejadian tersebut, penting sekali bagi orang tua untuk memastikan bayi tidak dalam kondisi flu selama perjalan. Selain itu, pemberian minum pada bayi saat hendak take off atau landing juga menghindari terjadinya rasa tidak nyaman/nyeri pada bayi akibat perubahan tekanan di dalam kabin pesawat.

        4. Waktu Menyusui

Perlu sekali diperhatikan waktu untuk bayi menyusu selama perjalanan. Bayi baru lahir umumnya memiliki pola menyusui yang belum stabil. Penting sekali bagi ibu untuk memberi minum bayi sebelum berangkat. Pemberian minum yang cukup dan memastikan bayi kenyang, membantu bayi merasa nyaman dan terlelap selama perjalan. Hal tersebut akan memudahkan keluarg bila hendak membawa bayi berpergian.

Bila bayi tidak mendapat ASI, melainkan susu formula, ASI yang difortifikasi, ataupun Donor ASI, penting sekali bagi keluarga untuk memperhatikan kebersihan botol serta ketersediaan susu selama perjalan.

Kemampuan bayi prematur untuk menyusu secara mandiri juga mempengaruhi kesiapan bayi untuk dibawa melakukan perjalan (ASI Eksklusif Untuk Bayi Prematur).

       5. Temperatur Ruangan

Suhu ruangan selama bayi dibawa baik menggunakan jalur darat, laut maupun udara sangat penting untuk diperhatikan. Umumnya suhu di dalam kabin pesawat lebih rendah dibandingkan di darat karena ketinggian yang dicapai pesawat selama terbang dengan stabil, sementara bayi prematur rentan mengalami penurunan suhu tubuh, untuk itu perlu sekali memastikan kondisi bayi sudah stabil sebelum berangkat dan pastikan bayi mengenakan pakaian yang nyaman serta terjamin kehangatannya sehingga mencegah bayi mengalami hipotermi selama penerbangan. Berbeda bila bayi dibawa menggunakan jalur darat atau laut, suhu umumnya lebih hangat dan lembab, sehingga pilihan pakaian serta popok bayi juga perlu diperhatikan sehingga bayi terhindar dari kemungkinan infeksi kulit.

       6. Posisi Bayi Bila Berkendara dengan Mobil

Berdasarkan hasil penelitian, car seat  untuk bayi tida disarankan untuk digunakan bayi prematur ketika berusia berat bayi belum mencapai 2 kilogram. Hal tersebut disebabkan karena banyak car seat untuk bayi tidak memiliki ukuran yang sesuai bayi bayi prematur yang umumnya memiliki badan lebih kecil. Sehingga bila hendak membawa bayi prematur menggunakan mobil, sebaiknya bayi tetap dipangku bersama ibu dengan posisi dada dan wajah menghadap ke atas (posisi yang diharapkan 45º).

Bila bayi sudah bisa didudukan pada car seat, penting sekali agar posisi bayi dijaga tetap stabil (tidak terperosot). Posisi bayi dapat didukung dengan gulungan selimut berukuran kecil di kanan dan kiri bayi. Penting pula agar bayi ditemani oleh orang dewasa bila di dalam mobil sehingga pernapasan bayi dapat dimonitor.

                                                      
                              Gambar 1. Posisi Bayi dengan Car Seat (dikutip dari www.bidmc.harvard.edu)

 

 

 

Sumber Gambar: huffingtonpost.ca

Referensi:

  1. Bossley CJ, Cramer D, Mason B, et al. Fitness to fly testing in term and ex-preterm babies without bronchopulmonary dysplasia. Archives of Disease in Childhood - Fetal and Neonatal Edition 2012;97:F199-F203.

  2. The British Thoracic Society (BTS) Guideliens 2004.

  3. Pillet E, McGuire W. The car seat : a challenge too far for preterm infants?. Archives Disease Child Fetal Neonatal Edition 2005;90:F452-F455.





Artikel Terkait



Komentar


Silahkan login