Kulit Memerah, inikah Ruam Popok?

1 tahun yang lalu
Oleh : dr. Luh Karunia Wahyuni, Sp. KFR (K)


Ruam popok adalah keadaan kulit yang meradang (dermatitis) yang terjadi di area pemakaian popok bayi, yaitu bokong, alat kelamin, dan paha. Kondisi ini akan mengganggu kenyamanan bayi dan membuat orang tua umumnya panik. Dengan perawatan sederhana di rumah, ruam popok dapat teratasi dengan baik.

Apa saja gejala ruam popok? 

  • Pertanda di kulit: berwarna merah, iritasi, dan tampak benjolan merah.
  • Perubahan pada bayi: menjadi rewel dan/atau menagis ketika area sekitar popok dibersihan atau disentuh.

Apa penyebabnya? 

Faktor penyebab ruam popok bisa beragam dan perlu penelusuran, di antaranya:

  • Iritasi dari feses dan urine. Kontak yang terlalu lama air seni atau tinja dapat mengiritasi kulit sensitif bayi.
  • Radang akibat gesekan. Popok atau pakaian yang terlalu ketat/sempit akan menggesek kulit dan dapat menyebabkan ruam.
  • Iritasi dari produk baru. Kulit bayi bisa bereaksi terhadap tisu, popok sekali pakai merek yang baru dipakai bayi, atau deterjen, pemutih atau pelembut pakaian yang digunakan untuk mencuci popok kain. Zat lain yang dapat menambah masalah adalah bahan-bahan yang terdapat pada beberapa produk lotion, bedak dan minyak bayi.
  • Infeksi bakteri atau jamur. Infeksi kulit yang sederhana di lipatan kulit bayi, misalnya, dapat menyebar ke daerah sekitar popok, karena bokong, paha dan alat kelamin hangat dan lembap, rentan menjadi tempat berkembang biak bakteri dan jamur.
  • Pengenalan makanan baru. Ketika bayi mulai mendapatkan makanan pendamping ASI, seringkali terjadi perubahan pada fesesnya, termasuk frekuensi yang lebih banyak yang dapat menyebabkan timbulnya ruam popok. Sementara pada bayi ASI, ruam popok dapat terjadi akibat makanan yang dikonsumsi ibu.
  • Kulit sensitif. Bayi dengan kondisi kulit sensitif, seperti dermatitis atopik (eksim) atau dermatitis seboroik (kerak kepala), lebih mudah terkena ruam popok.
  • Penggunaan antibiotik. Antibiotik tidak hanya membunuh bakteri jahat tetapi juga bakteri baik yang melindungi bayi dari infeksi jamur sehingga mudah terkena ruam popok. Efek antibiotik ini dapat melalui ibu menyusui yang mengonsumsi antibiotik.

Kiat mengatasi ruam popok

Umumnya, ruam popok bisa diatasi di rumah dengan beberapa upaya berikut ini.

  • Perhatikan pemilihan dan pemakaian popok.
  • Jaga area popok tetap bersih dan kering. Ganti popok segera setelah basah atau kotor.
  • Oleskan krim antiruam yang mengandung seng oksida (zinc oxide) di area popok setelah kulit bayi dibersihkan dan dikeringkan secara lembut, untuk mengurangi terjadinya gesekan dan kerusakan jaringan kulit lebih lanjut. Konsultasikan dengan dokter setiap penggunaan krim, lotion atau salep untuk kulit sensitif bayi.
  • Hindari penggunaan sabun dan tisu yang mengandung alkohol atau wewangian saat membersihkan bayi setelah buang air.
  • Pastikan sirkulasi udara berjalan baik. Sesekali, misalnya sehari tiga kali, biarkan bayi tidak mengenakan popok selama 10 menit. Misalnya pada saat bayi tidur siang.
  • Jangan pasang popok terlalu kencang. Jika popok meninggalkan bekas di pinggang dan kaki bayi, berarti popok terlalu sempit.
  • Mandi sehari dua kali, pagi dan sore hari. Bersihkan daerah kelamin bayi dengan air hangat dan sabun mandi khusus untuk bayi yang bebas pewangi.

Kapan harus ke dokter?

  • Jika kondisi ruam pada kulit bayi tidak membaik setelah 2-3 hari.
  • Ruam menjadi berdarah, gatal atau merembes, diiringi demam. Bisa jadi hal ini pertanda infeksi.
  • Bayi terlihat kesakitan saat buang air kecil atau buang air besar disertai demam. Bisa jadi bayi mengalami infeksi saluran kemih.

 

 

Referensi: 

1. Diaper Rash, http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diaper-rash/basics/definition/con-20019220 , dikunjungi pada 24 Februari 2017.

2. Luh Karunia Wahyuni, Kupas Tuntas Popok, Jakarta: PB PERDOSRI, 2016.

Sumber Gambar: babble.com

 

 

 

 

 

 





Artikel Terkait



Komentar


Silahkan login