Pemberian ASI Ekslusif Untuk Bayi Prematur

1 tahun yang lalu
Oleh : dr. Ayu Partiwi Sp. A


Proses pemberian ASI pada bayi prematur pada dasarnya memerlukan waktu, kesabaran, dan dedikasi ibu (juga perawat rumah sakit). Menyusui bayi prematur seringkali memerlukan tambahan panduan dari konsultan laktasi. Dukungan serta dorongan secara terus-menerus dari lingkungan sangat penting untuk keberhasilan menyusui bayi prematur.

 

Pemberian bertahap

Persalinan “khusus” pada bayi prematur membuat perlakuan kepadanya pun perlu pertimbangan banyak hal. Tidak bisa disamaratakan satu tindakan untuk semua bayi prematur, mengingat setiap rentang prematuritas dan berat lahir setiap bayi membawa konsekuensi kemampuan yang ia miliki. Bayi yang lahir kurang dari 28 minggu dengan berat lahir kurang dari 1000 gram, misalnya, tentu tidak dapat disamakan perlakuan pemberian ASI dengan bayi prematur yang lahir pada usia kehamilan 34-36 minggu yang organ tubuhnya relatif sudah lebih matang (mature).

Proses pemberian ASI kepada bayi prematur dapat dilakukan bertahap sesuai kemampuan bayi. Kemungkinan besar, bayi sakit tidak dapat langsung menyusu pada payudara ibu sampai kondisinya stabil dan siap. Pada bayi prematur yang masih lemah, belum memiliki keterampilan mengisap, ibu akan dianjurkan untuk memerah air susunya yang kemudian diberikan kepada bayi melalui selang atau pipa yang dimasukkan dari mulut ke lambung (orogastric tube/OGT), tergantung kemampuan bayi.

Ibu tak perlu panik bila ASI perah (ASIP) yang diperoleh hanya sedikit, karena pada jam-jam awal kelahirannya, bayi umumnya belum memerlukan banyak ASIP. Bila produksi ASI masih sedikit, ibu dapat meminta bantuan perawat atau dokter untuk mengoptimalkan produksi ASI sesuai kebutuhan bayi. Biasanya ibu akan diminta memompa ASI setiap 1-2 jam sekali, dengan sebelumnya (30 menit sebelum memompa) meminum air atau susu hangat. Pastikan kepada dokter apakah ASIP sudah cukup atau belum untuk bayi, karena bayi prematur umumnya harus mengejar ketertinggalan berat badannya.

Bila bayi dirawat di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit), dapat ditanyakan kepada pihak rumah sakit, apakah bisa secara berkala ibu memberikan ASIP dengan alat bantu di bawah bimbingan perawat. Misalnya saja sebelum melakukan perawatan metoda kanguru (PMK). Sebaiknya rumah sakit mengizinkan ibu untuk ikut serta merawat bayinya saat di ruang NICU, seperti memberi minum dan mengganti popok, sehingga menguatkan ikatan batin ibu dan bayi.

    

Siapkan pendonor ASI

Selain kondisi bayi, kondisi ibu juga dapat memengaruhi pemberian ASI kepada bayi prematur. Terkadang ada ibu yang sukar atau bahkan belum memroduksi ASI, sehingga perlu dicarikan jalan keluar yang terbaik bagi bayi dan ibu. Pada kondisi seperti ini sebaiknya bayi diupayakan tetap mendapat 

ASI donor pasteurisasi dari ibu yang juga memiliki bayi prematur yang usia gestasi (usia kehamilan saat bayi lahir) relatif sama dengan bayi. Kesamaan ASI donor dari sesama bayi prematur dengan usia gestasi yang relatif sama diperlukan karena komposisi zat gizinya relatif sama. Perlu diketahui, ASI adalah spesies spesifik yang komposisi zat gizinya berubah-ubah sesuai kebutuhan bayi.

ASI donor yang akan diberikan kepada bayi, sekalipun dari orang yang sudah dikenal –bahkan saudara kandung– harus telah lolos skrining, seperti bebas dari infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan hepatitis, serta dipasteurisasi demi keamanan dan kesehatan bayi penerima. Di sinilah pentingnya ibu mulai mencari pendonor ASI sejak masa kehamilan, sebagai antisipasi apabila bayinya terpaksa lahir prematur dan membutuhkan ASI donor. Beberapa rumah sakit yang memiliki bank ASI, seperti RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta, terkadang tidak memiliki ASI donor yang sesuai spesifikasinya dengan yang dibutuhkan bayi prematur.

Pada bayi prematur yang telah mulai memiliki kemampuan mengisap namun produksi air susu ibu belum memadai, maka dapat dilakukan dengan bantuan lactation aid yang diisi ASI donor. Alat bantu ini juga dapat digunakan pada ibu yang sudah memroduksi ASI memadai namun kemampuan bayi untuk mengisap masih lemah, sehingga botol lactation aid diisi dengan ASI perah.

Referensi:

 

1. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, et.al (Ed.), Breastfeeding Sick Babies, Jakarta: Balai Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2015.

 

Sumber Gambar: health.howstuffworks.com

 





Artikel Terkait



Komentar


Silahkan login