Skrining Pendengaran Untuk Bayi Prematur

1 tahun yang lalu
Oleh : Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo Sp. A (K)


Taukah Anda bahwa angka kejadian gangguan pendengaran pada bayi baru lahir sekitar 1-6 per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut akan meningkat pada bayi dengan risiko tinggi. Bayi berisiko tinggi dalam hal ini misalnya bayi prematur dengan kecurigaan infeksi dan membutuhkan antibiotik. Ada beberapa antibiotik yang dalam penggunaan lama dan dosis tinggi dapat mengganggu fungsi pendengaran (ototoksik). Di samping itu, risiko tinggi juga terjadi pada bayi prematur yang dirawat di ruang perawatan khusus/intensif dengan tingkat kebisingan tertentu.

Di Amerika Serikat, skrining pendengaran rutin dilakukan pada semua bayi baru lahir termasuk bayi prematur. Di Indonesia, skrining pendengaran rutin belum menjadi prioritas mengingat ketersediaan tenaga, peralatan maupun biaya.

 Di RSCM, skrining pendengaran dilakukan rutin pada semua bayi prematur yang dirawat. Tahapan pemeriksaan yang dilakukan berupa (1) OAE pada usia ≤1 bulan dan (2) Automated ABR (BERA Otomatis) pada usia ≤3 bulan setelah dilakukan pemeriksaan OAE (interpretasi hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Tabel 1).

                         Tabel 1. Interpretasi Hasil Pemeriksaan Skrining Telinga di RSCM

   

OAE

(<1 BULAN)

BERA

(<3 BULAN)

SIMPULAN

Normal

Normal

Pendengaran Normal

Abnormal

Abnormal

Tuli Sensorineural (kerusakan saraf dan liang telinga)

Normal

Abnormal

Neuropati Auditorik (kerusakan saraf dengan liang telinga normal)

Abnormal

Normal

Tuli Konduktif, periksa ulang setiap 3-6 bulan hingga anak dapat berbicara usia 3 tahun

 

Skrining dini sangat penting dilakukan. Adanya gangguan pendengaran pada bayi baru lahir akan menyebabkan gangguan perkembangan bahasa (linguistik) dan komunikasi di kemudian hari. Bila gangguan pendengaran sudah diketahui sebelum usia 3 bulan, selanjutnya dilakukan habilitasi pendengaran mulai usia 6 bulan, maka pada saat anak berusia 3 tahun perkembangan wicara dan bahasanya dapat mendekati anak yang pendengarannya normal.

Orang tua sering menyadari adanya gangguan pendengaran pada anak saat dijumpai keterlambatan bicara usia 1-2 tahun. Pada usia tersebut, intervensi terapi ataupun habilitasi masih dapat dilakukan namun kemampuannya tidak akan mencapai hasil yang optimal dibandingkan bila  dilakukan intervensi sebelum bayi berusia 6 bulan. Untuk itulah perlu sekali dilakukan skrining dini selambat-lambatnya saat bayi berusia koreksi 1 bulan atau sebelum pulang dari perawatan.

 

Referensi :

  1. Suwento Ronny, dkk – Dep. THT FKUI/RSCM. Program Skrining Pendengaran Pada Bayi Baru Lahir. Jakarta : 2015
  2. American Academy of Pediatrics about Early Hearing Detection and Intervention.
  3. American Speech-Language-Hearing Association: Expert Panel Recommendations on Newborn Hearing Screening 
  4. Joint Committee of Infant Hearing (JCIH) 2007.

Sumber Gambar: riverainsphotography.com





Artikel Terkait



Komentar


Silahkan login